Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts

Wednesday, July 2, 2014

That sweet girl..

When you have spare time..
Do what you love, love what you do..

Done by Pencil on Reuse-Paper

Another practices..

So, I've decided to have more practices lately..
 
I've realized that my artworks ain't good enough.
It is not difficult at all to have more study, actually. 
The only problem is, sometimes I am too lazy to do it.. hehehe..
But if I want to be as good as my friends, I should learn more things.

Maybe this is not the best what I can do now. 
But I believe if I want to have more practices, I can be good.
That's the key. 
The confidence and optimism leads you to the greatness. hehehe *such a wise man*

Perhaps, you are as same as like me now. 
But remember this. A true hero comes from zero.
Just do what you love and love what you do. 
And dont forget to believe in yourself! 
BE WHO YOU ARE, BE PROUD OF WHAT YOU CAN DO!


Done by pencil on paper

Done by SNote on Samsung Note

Done by SNote by Samsung Note

Done by Acrylic and Color Pencil on Wood

Friday, April 25, 2014

I will give you my heart..


This artwork literally means something about giving our heart to someone whom we adores so much. Do you remember how is your feeling when you are fall in love with someone? You will try to give the best things for them, right? But the highest and prestigious thing is not a diamond or a bucket of money. It is your heart, your life.. 

I know that it sounds cliche, but.. Believe me, no other things that you want except their heart. Remember this: "Once you have his heart, then you will have his Mercedes, luxurious condominium, and so on." Hahahaha.. Lol *sounds like a bitch*

Done by pencil and digital editing.
Addie

You can see my other artworks in my IG addiesetiadi

Street Art Genji Shoppe



SKETSAKU – Jakarta. Siapa yang tidak menyukai makanan ringan? Well, semua orang pastinya suka dengan makanan ringan apalagi kalau rasanya memang pas di lidah dan tentu saja pas di kantong. Kali ini salah satu produsen makanan ringan ternama di tanah air, Monde membuat sebuah acara yang bertajuk Genji Shoppe. Acara ini merupakan sebuah ajang inovasi terbaru dari Monde yang menyuguhkan sajian lezat yang berbahan dasar Genji Pie.



Acara Genji Shoppe ini dibuka pada Sabtu (12/04/14) lalu di North Entrance Pondok Indah Mall III Street Gallery, Jakarta Selatan. Menurut Kelwin Darmono, General Manager Monde Biscuit Indonesia, acara ini digelar dengan tujuan sebagai tempat berkumpulnya anak muda untuk saling berbagi inspirasi dan cinta. Genji Shoppe ini mengusung konsep pop-up café. Dimana di setiap dindingnya dilukis oleh beberapa seniman muda Indonesia.


Tim kami berhasil menangkap salah satu seniman muda yang ikut mengisi ruang kosong di pop-up café Genji Shoppe tersebut dengan gambarnya yang ciamik. Adalah Rukmunal Hakim, pria muda yang berdomisili di Bandung ini kedapatan sedang berfoto bersama dengan teman-temannya saat itu. Dengan gesit, kami lalu menghampirinya dan melontarkan beberapa pertanyaan mengenai hasil karyanya tersebut.


Sketsaku       : Halo Kak, bisa jelaskan sedikit tentang idenya kenapa bisa menciptakan gambar ini?
R. Hakim        : Sebenarnya idenya itu datang dari hal-hal yang gue lakuin di Bandung, gue kan suka nongkrong santai bareng temen gitu, terus kepikiran buat bikin gambar. Nah, berhubung Genji juga maunya sesuatu yang santai juga, jadi pas sama ide gue. Gue mau menghadirkan atmosfer Bandung yang sekarang itu kan banyak tamannya buat santai gitu.
Sketsaku       : Butuh waktu berapa lama sih untuk pengerjaannya ini sendiri? Dan media apa yang dipakai selama proses?
R. Hakim        : Semuanya ini gue kerjain selama 4 hari. Kita semua start dari jam 9 pagi gitu. Dan per harinya sih rata-rata gue kerjain selama 12 jam. Gue cuma pake tinta India sih. Gue lebih prefer ke tinta India ketimbang cat soalnya dia gak cepet menggumpal.
Sketsaku       : Sebelumnya sudah pernah melukis di tembok seperti ini?
R. Hakim        : Wah, ini sebenarnya pertama kali gue lukis tembok.
Sketsaku       : Kira-kira ada kesulitan gak sih selama proses pengerjaan?
R. Hakim        : Kesulitannya cuma media gambarnya aja sih yang lebar banget, jadi gue palingan main di perspektif aja.
Sketsaku       : Wah, terima kasih ya kak atas penjelasannya.


Selain R. Hakim, ada beberapa seniman muda berbakat yang ikut mencoret-coret pop-up café tersebut. Ada Muhammad Taufiq (Emte), Lala Bohang, Monica Hapsari, dan Ykha Amelz. Kelima seniman tersebut saling menyajikan ilustrasi menarik yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Selain itu, pengunjung juga disuguhi live music yang bisa membuat meleleh . Wow, seru banget lho.

Nah, buat kamu yang mau melihat seberapa kerennya hasil karya tangan-tangan kreatif itu, bisa langsung mampir ke Genji Shoppe di Pondok Indah Mall III ya. Acaranya akan berlangsung selama sebulan penuh. Jangan mau dibuat penasaran, datang dan cicipi pula hidangan lezat yang disuguhkan oleh Monde Biscuit Indonesia.


Photo courtesy by Addie Setiadi and Hungry Doctor


---------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dapat dibaca juga di website Sketsaku.com

Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Kampanye Visual “Doodle Mangrove”



Jakarta, KeMANGTEER. Siapa tak kenal KemangteerJKT, salah satu komunitas volunteer pelestari Mangrove di Jakarta yang merupakan anak dari Kemangteer Indonesia. Belum lama ini, mereka ikut berpartisipasi dalam event berskala nasional Social Media Festival atau yang lebih dikenal dengan SocMedFest. Diadakan di Jakarta tanggal 12-13 Oktober 2013, KemangteerJKT turut andil memeriahkan suasana fX Plaza, Senayan kala itu dengan talkshow dan fashion show Batik Bakaunya.

Yang tak kalah menariknya adalah tampilan booth mereka yang penuh warna dan beragam produk hasil olahan Mangrove. Produk-produk Mas Jamang, Batik Bakau, Grovenir dan juga MangroverStore tertata rapi di meja mereka. Tetapi yang menarik adalah adanya gambar Doodle Mangrove yang dipajang di booth mereka.

Kali ini KemangteerJKT melakukan hal yang berbeda untuk menyuarakan pentingnya pelestarian mangrove di Jakarta. Mereka menggaet komunitas doodle Indonesia, Full Of Doodle Art untuk berkampanye secara visual. Berawal dari perbincangan iseng yang tidak disengaja, akhirnya tercetuslah ide untuk berkolaborasi dalam kampanye Save Mangrove.

Anggota KemangteerJKT yang sedang berpose di depan booth mereka

Full Of Doodle Art (FODA) adalah sebuah komunitas yang berawal dari media sosial untuk menjaring pencipta seni bebas atau free-hand art yang dapat dituangkan dalam segala jenis media dengan berbagai gaya dari pembuatnya. Berdiri tanggal 13 Januari 2013, komunitas ini memiliki visi untuk mengenalkan doodle art kepada masyarakat Indonesia khususnya para remaja. Komunitas ini terbentuk karena kecintaan sang founder, Yessi N. Muliana atau yang lebih akrab disapa Yessiow terhadap seni tersebut. FODA tak hanya mengenalkan doodle art kepada remaja tetapi juga meyatukan mereka dalam suatu wadah yang kreatif dan inspiratif.

“Tujuan FODA sebenarnya adalah menyatukan anak-anak muda yang cinta dengan dunia seni gambar dan juga menjalin persahabatan. Jadi selain bisa saling menginspirasi orang banyak (lewat gambar), kita juga bisa dapat teman baru.”, ujar Yessiow dengan semangat.

Founder komunitas Full Of Doodle Art, Yessiow
Reaksi para doodler—sebutan untuk penggiat doodle—sewaktu diajak untuk melakukan kampanye dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove kala itu, sangatlah antusias. Ini terbukti dengan banyaknya  anak muda yang mengirimkan gambar mereka yang bertemakan “Save Mangrove”. Ini menunjukkan bahwa anak muda sekarang ini masih banyak yang peduli dengan pelestarian mangrove. Konsep kampanye visual “Save Mangrove” ini sebenarnya adalah untuk mengajarkan kepada orang banyak bahwa untuk mulai membangun rasa cinta terhadap lingkungan itu bisa dilakukan dari hal yang disukai. 

“Kalau hobi gambar, ya bisa dimulai dari gambar yang bertemakan lingkungan. Kamu bisa buat gambar yang mengandung pesan selamatkan atau peduli terhadap lingkungan.”, kata Addie Setiadi selaku koordinator dari KemangteerJKT.

Doodle mangroves 1

Doodle mangroves 2

Doodle Mangrove hasil karya teman-teman FODA ikut dipamerkan saat gelaran SocMedFest berlangsung. Selain itu juga diupload di twitter @kemangteerJKT dan @fullofdoodleart. Apresiasi masyarakat terhadap hasil karya anak-anak muda ini juga sangat baik, mereka memuji betapa kreatifnya generasi muda saat ini.

Pihak KemangteerJKT berharap ke depannya dengan adanya kolaborasi kampanye seperti ini dapat membuat masyarakat lebih aware terhadap lingkungannya. Seni memang indah. Apalagi jika bisa menginspirasi banyak orang untuk berubah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Salam Mangrover! Semangteer!

(Addie Setiadi, 2013)

Wednesday, April 23, 2014

Pameran Karya dan Workshop Mencukil Penahitam

SKETSAKU – Jakarta. Banyak orang yang menyebutkan bahwa akan ada banyak gejolak yang menyambangi tahun 2013 lalu, dari dunia entertainment hingga ekonomi dan bahkan tak sedikit yang ikut mewarnai panggung politik di Indonesia. Namun, tidak ada yang bisa menyurutkan Pena Hitam untuk terus berkarya “gila-gilaan” sepanjang tahun 2013. Bahkan boleh dibilang mereka telah sukses menelurkan tiga edisi Fanzine secara independen.
Di akhir tahun 2013, Pena Hitam mengadakan sebuah workshop grafis yang mengangkat teknik mencukil di atas hardboard. Workshop yang digawangi oleh Abe sebagai trainer tersebut mengambil tempat di Tokove café di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Walaupun hujan sempat mengguyur ibukota, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan tekad para peserta untuk tetap datang ke acara tersebut.
Pameran karya Penahitam
Pameran karya Penahitam

Sore itu, Abe menjelaskan beberapa tahapan mencukil kepada para peserta workshop. Dimulai dari pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu seperti papan hardboard, carving, roll grafis, kaca bekas, kertas dan totebag, pensil, tinta offset, kape, dan bensin/minyak tanah.

Mencukil merupakan salah satu teknik dalam membuat seni grafis. Pada tahun 1948, Mochtar Apin bersama temannya Baharuddin Marasuta memperkenalkan teknik tersebut menggunakan media pahatan lino / karet hitam. Waktu itu, karya yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan mengenai situasi perjuangan bangsa Indonesia dan kondisi politik yang sedang terjadi.
Workshop mencukil Penahitam
Workshop mencukil Penahitam

Selain workshop, PenaHitam juga mengadakan barter karya, dimana siapapun bebas bertukar artprints dengan sesama artis lainnya. Karya-karya yang sempat “mejeng” di fanzine mereka pun turut menghiasi dinding-dinding Tokove. Menakjubkan sekali bisa menikmati karya-karya indah penuh makna hari itu.

Didi Suryawan atau yang lebih populer dipanggil Painsugar memang punya tujuan untuk mengumpulkan karya-karya yang tidak hanya punya nilai estetika tinggi namun juga sarat akan makna. Baginya, sebuah karya haruslah memiliki sebuah arti yang mendalam sehingga tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pajangan saja melainkan media yang bisa mengubah pandangan seseorang dalam melihat dunia ini. Fantastis!

Satu hal lagi yang menarik di pameran Sabtu itu (30/12) adalah gambar bareng. Para peserta diajak untuk bersama-sama mengisi media kertas berukuran A2 dengan gambar sebebas-bebasnya. Namanya juga PenaHitam, maka gambar yang dihasilkan ternyata juga erat dengan “kengerian” yang khas.
Kolaborasi gambar Penahitam
Kolaborasi gambar Penahitam

Salah seorang peserta yang hadir malam itu membuka suaranya—ketika dimintai opini tentang acara tersebut—dengan kata Amazing. Em Iqbal menjelaskan bahwa dari workshop yang diadakan PenaHitam tersebut, dia mendapatkan ilmu menarik tentang bagaimana cara mencukil hingga mencetak desain di atas totebag.

“Hari ini gue bisa dapat pengetahuan mencukil yang lebih dalam lagi, ya walaupun gue udah tau dasar-dasarnya dari buku atau sosmed sih. Tapi sekarang nguliknya sampai dalam. Dan gue seneng bisa ketemu sama teman-teman yang hobinya sejalan sama gue. Gue juga bisa lihat karya-karya yang ajib banget. Seru! Dan gue berharap ke depannya PenaHitam bisa adain acara kaya gini terus.”, terangnya.

Tidak hanya para pengunjung yang dibuat senang akan acara tersebut namun hal serupa juga dialami oleh Painsugar sendiri, sang dedengkot PenaHitam. Dari air mukanya terlihat jelas bahwa dia juga mengalami sensasi kegembiraan yang tak tergantikan.

“Jujur banget, setelah beberapa kali aku ke Jakarta, acara ini adalah yang benar-benar memorable. Aku—pribadi—gak pernah ngerasain buat acara yang sangat menarik seperti ini. Kita bisa bebas berkarya, bebas berekspresi. Dan saya paling suka karena ada musiknya yang bagus banget. Harapan aku ke depan bisa ajak teman-teman dari daerah manapun untuk bisa berkarya bareng dan buat acara-acara seperti ini. Saya juga berterima kasih kepada Sketsaku yang turut menginspirasi teman-teman PenaHitam. Semoga kita bisa terus bekerja sama di event selanjutnya.”

Akhirnya acara ditutup oleh sambutan terima kasih dari Painsugar kepada banyak pihak yang telah membantunya selama ini dan terutama yang telah mensukseskan acara tersebut. Walaupun sudah usai, euforia yang tercipta malam itu sepertinya tidak mau meninggalkan pikiran kita semua yang telah hadir. Hari itu adalah malam yang sangat ekspresif. Semua bebas mengekspresikan dirinya masing-masing, boleh dibilang ini adalah sesuatu yang “pecah banget” di penghujung tahun 2013.

Sukses selalu kawan sesuai dengan tagline yang dijunjung PenaHitam yang begitu ngehits, “Berkarya, Berteman dan Bersenang-senang.” #RESPECT

-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com