Jakarta. Di Indonesia banyak sekali elemen kebudayaan yang sangat artistik. Salah satunya yaitu baju adat atau baju daerah. Adalah Kandore, nama baju yang berasal dari suku Toraja. Kandore ini menjadi terlihat indah karena ada sentuhan motif yang sangat khas. Ditambah lagi dengan adanya manik-manik yang berwarna cerah membuat pakaian ini menjadi lebih menarik. Baju ini biasanya digunakan pada saat acara adat seperti acara pernikahan tradisional atau juga dipakai oleh wanita setempat saat membawakan tarian daerahnya.
Pada karya ini, digambarkan seorang gadis yang sedang tersenyum merona menggunakan kandore yang seakan menyiratkan sebuah perasaan bangga akan warisan adat budaya yang dimilikinya. Karya yang didominasi oleh warna cerah ini memang sengaja menonjolkan sisi ceria yang memiliki makna bahwa kebudayaan Indonesia itu banyak sekali ragamnya dan indah seperti pelangi di langit biru.
Artwork oleh Addie Setiadi
Dikerjakan menggunakan watercolor di kertas A4.
Karya ini bisa dilihat pameran Starfest 2014 di STIKS Tarakanita, Jakarta Timur tanggal 10 Mei 2014.
Tema yang diangkat adalah "Cultural Diversity in Harmony".
Showing posts with label exhibition. Show all posts
Showing posts with label exhibition. Show all posts
Friday, May 9, 2014
Friday, April 25, 2014
Street Art Genji Shoppe
SKETSAKU – Jakarta. Siapa yang tidak menyukai
makanan ringan? Well, semua orang pastinya suka dengan makanan ringan apalagi
kalau rasanya memang pas di lidah dan tentu saja pas di kantong. Kali ini salah
satu produsen makanan ringan ternama di tanah air, Monde membuat sebuah acara yang
bertajuk Genji Shoppe. Acara ini merupakan sebuah ajang inovasi terbaru dari
Monde yang menyuguhkan sajian lezat yang berbahan dasar Genji Pie.
Acara Genji Shoppe ini dibuka pada Sabtu (12/04/14)
lalu di North Entrance Pondok Indah Mall III Street Gallery, Jakarta Selatan. Menurut
Kelwin Darmono, General Manager Monde Biscuit Indonesia, acara ini digelar
dengan tujuan sebagai tempat berkumpulnya anak muda untuk saling berbagi
inspirasi dan cinta. Genji Shoppe ini mengusung konsep pop-up café. Dimana di
setiap dindingnya dilukis oleh beberapa seniman muda Indonesia.
Tim kami berhasil menangkap salah satu seniman muda
yang ikut mengisi ruang kosong di pop-up café Genji Shoppe tersebut dengan
gambarnya yang ciamik. Adalah Rukmunal Hakim, pria muda yang berdomisili di
Bandung ini kedapatan sedang berfoto bersama dengan teman-temannya saat itu.
Dengan gesit, kami lalu menghampirinya dan melontarkan beberapa pertanyaan
mengenai hasil karyanya tersebut.
Sketsaku : Halo Kak, bisa jelaskan sedikit tentang idenya kenapa bisa
menciptakan gambar ini?
R. Hakim :
Sebenarnya idenya itu datang dari hal-hal yang gue lakuin di Bandung, gue kan
suka nongkrong santai bareng temen gitu, terus kepikiran buat bikin gambar.
Nah, berhubung Genji juga maunya sesuatu yang santai juga, jadi pas sama ide
gue. Gue mau menghadirkan atmosfer Bandung yang sekarang itu kan banyak
tamannya buat santai gitu.
Sketsaku :
Butuh waktu berapa lama sih untuk pengerjaannya ini sendiri? Dan media apa yang
dipakai selama proses?
R. Hakim :
Semuanya ini gue kerjain selama 4 hari. Kita semua start dari jam 9 pagi gitu.
Dan per harinya sih rata-rata gue kerjain selama 12 jam. Gue cuma pake tinta
India sih. Gue lebih prefer ke tinta India ketimbang cat soalnya dia gak cepet
menggumpal.
Sketsaku :
Sebelumnya sudah pernah melukis di tembok seperti ini?
R. Hakim :
Wah, ini sebenarnya pertama kali gue lukis tembok.
Sketsaku :
Kira-kira ada kesulitan gak sih selama proses pengerjaan?
R. Hakim :
Kesulitannya cuma media gambarnya aja sih yang lebar banget, jadi gue palingan
main di perspektif aja.
Sketsaku :
Wah, terima kasih ya kak atas penjelasannya.
Selain R. Hakim, ada beberapa
seniman muda berbakat yang ikut mencoret-coret pop-up café tersebut. Ada Muhammad
Taufiq (Emte), Lala Bohang, Monica Hapsari, dan Ykha Amelz. Kelima seniman
tersebut saling menyajikan ilustrasi menarik yang sesuai dengan karakter mereka
masing-masing. Selain itu, pengunjung juga disuguhi live music yang bisa
membuat meleleh . Wow, seru banget lho.
Nah, buat kamu yang mau melihat
seberapa kerennya hasil karya tangan-tangan kreatif itu, bisa langsung mampir
ke Genji Shoppe di Pondok Indah Mall III ya. Acaranya akan berlangsung selama
sebulan penuh. Jangan mau dibuat penasaran, datang dan cicipi pula hidangan
lezat yang disuguhkan oleh Monde Biscuit Indonesia.
Photo courtesy by Addie Setiadi and
Hungry Doctor
---------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dapat dibaca juga di website Sketsaku.com
Labels:
AddieST,
art,
Articles,
event,
exhibition,
genji pie,
genji shoppe,
monde,
sketsaku,
street art
Wednesday, April 23, 2014
Pameran Karya dan Workshop Mencukil Penahitam
SKETSAKU – Jakarta. Banyak orang yang menyebutkan bahwa akan ada
banyak gejolak yang menyambangi tahun 2013 lalu, dari dunia
entertainment hingga ekonomi dan bahkan tak sedikit yang ikut mewarnai
panggung politik di Indonesia. Namun, tidak ada yang bisa menyurutkan
Pena Hitam untuk terus berkarya “gila-gilaan” sepanjang tahun 2013.
Bahkan boleh dibilang mereka telah sukses menelurkan tiga edisi Fanzine
secara independen.
Di akhir tahun 2013, Pena Hitam mengadakan sebuah workshop grafis yang mengangkat teknik mencukil di atas hardboard. Workshop yang digawangi oleh Abe sebagai trainer tersebut mengambil tempat di Tokove café di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Walaupun hujan sempat mengguyur ibukota, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan tekad para peserta untuk tetap datang ke acara tersebut.
Sore itu, Abe menjelaskan beberapa tahapan mencukil kepada para peserta workshop. Dimulai dari pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu seperti papan hardboard, carving, roll grafis, kaca bekas, kertas dan totebag, pensil, tinta offset, kape, dan bensin/minyak tanah.
Mencukil merupakan salah satu teknik dalam membuat seni grafis. Pada tahun 1948, Mochtar Apin bersama temannya Baharuddin Marasuta memperkenalkan teknik tersebut menggunakan media pahatan lino / karet hitam. Waktu itu, karya yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan mengenai situasi perjuangan bangsa Indonesia dan kondisi politik yang sedang terjadi.
Selain workshop, PenaHitam juga mengadakan barter karya, dimana siapapun bebas bertukar artprints dengan sesama artis lainnya. Karya-karya yang sempat “mejeng” di fanzine mereka pun turut menghiasi dinding-dinding Tokove. Menakjubkan sekali bisa menikmati karya-karya indah penuh makna hari itu.
Didi Suryawan atau yang lebih populer dipanggil Painsugar memang punya tujuan untuk mengumpulkan karya-karya yang tidak hanya punya nilai estetika tinggi namun juga sarat akan makna. Baginya, sebuah karya haruslah memiliki sebuah arti yang mendalam sehingga tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pajangan saja melainkan media yang bisa mengubah pandangan seseorang dalam melihat dunia ini. Fantastis!
Satu hal lagi yang menarik di pameran Sabtu itu (30/12) adalah gambar bareng. Para peserta diajak untuk bersama-sama mengisi media kertas berukuran A2 dengan gambar sebebas-bebasnya. Namanya juga PenaHitam, maka gambar yang dihasilkan ternyata juga erat dengan “kengerian” yang khas.
Salah seorang peserta yang hadir malam itu membuka suaranya—ketika dimintai opini tentang acara tersebut—dengan kata Amazing. Em Iqbal menjelaskan bahwa dari workshop yang diadakan PenaHitam tersebut, dia mendapatkan ilmu menarik tentang bagaimana cara mencukil hingga mencetak desain di atas totebag.
“Hari ini gue bisa dapat pengetahuan mencukil yang lebih dalam lagi, ya walaupun gue udah tau dasar-dasarnya dari buku atau sosmed sih. Tapi sekarang nguliknya sampai dalam. Dan gue seneng bisa ketemu sama teman-teman yang hobinya sejalan sama gue. Gue juga bisa lihat karya-karya yang ajib banget. Seru! Dan gue berharap ke depannya PenaHitam bisa adain acara kaya gini terus.”, terangnya.
Tidak hanya para pengunjung yang dibuat senang akan acara tersebut namun hal serupa juga dialami oleh Painsugar sendiri, sang dedengkot PenaHitam. Dari air mukanya terlihat jelas bahwa dia juga mengalami sensasi kegembiraan yang tak tergantikan.
“Jujur banget, setelah beberapa kali aku ke Jakarta, acara ini adalah yang benar-benar memorable. Aku—pribadi—gak pernah ngerasain buat acara yang sangat menarik seperti ini. Kita bisa bebas berkarya, bebas berekspresi. Dan saya paling suka karena ada musiknya yang bagus banget. Harapan aku ke depan bisa ajak teman-teman dari daerah manapun untuk bisa berkarya bareng dan buat acara-acara seperti ini. Saya juga berterima kasih kepada Sketsaku yang turut menginspirasi teman-teman PenaHitam. Semoga kita bisa terus bekerja sama di event selanjutnya.”
Akhirnya acara ditutup oleh sambutan terima kasih dari Painsugar kepada banyak pihak yang telah membantunya selama ini dan terutama yang telah mensukseskan acara tersebut. Walaupun sudah usai, euforia yang tercipta malam itu sepertinya tidak mau meninggalkan pikiran kita semua yang telah hadir. Hari itu adalah malam yang sangat ekspresif. Semua bebas mengekspresikan dirinya masing-masing, boleh dibilang ini adalah sesuatu yang “pecah banget” di penghujung tahun 2013.
Sukses selalu kawan sesuai dengan tagline yang dijunjung PenaHitam yang begitu ngehits, “Berkarya, Berteman dan Bersenang-senang.” #RESPECT
-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com
Di akhir tahun 2013, Pena Hitam mengadakan sebuah workshop grafis yang mengangkat teknik mencukil di atas hardboard. Workshop yang digawangi oleh Abe sebagai trainer tersebut mengambil tempat di Tokove café di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Walaupun hujan sempat mengguyur ibukota, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan tekad para peserta untuk tetap datang ke acara tersebut.
Sore itu, Abe menjelaskan beberapa tahapan mencukil kepada para peserta workshop. Dimulai dari pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu seperti papan hardboard, carving, roll grafis, kaca bekas, kertas dan totebag, pensil, tinta offset, kape, dan bensin/minyak tanah.
Mencukil merupakan salah satu teknik dalam membuat seni grafis. Pada tahun 1948, Mochtar Apin bersama temannya Baharuddin Marasuta memperkenalkan teknik tersebut menggunakan media pahatan lino / karet hitam. Waktu itu, karya yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan mengenai situasi perjuangan bangsa Indonesia dan kondisi politik yang sedang terjadi.
Selain workshop, PenaHitam juga mengadakan barter karya, dimana siapapun bebas bertukar artprints dengan sesama artis lainnya. Karya-karya yang sempat “mejeng” di fanzine mereka pun turut menghiasi dinding-dinding Tokove. Menakjubkan sekali bisa menikmati karya-karya indah penuh makna hari itu.
Didi Suryawan atau yang lebih populer dipanggil Painsugar memang punya tujuan untuk mengumpulkan karya-karya yang tidak hanya punya nilai estetika tinggi namun juga sarat akan makna. Baginya, sebuah karya haruslah memiliki sebuah arti yang mendalam sehingga tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pajangan saja melainkan media yang bisa mengubah pandangan seseorang dalam melihat dunia ini. Fantastis!
Satu hal lagi yang menarik di pameran Sabtu itu (30/12) adalah gambar bareng. Para peserta diajak untuk bersama-sama mengisi media kertas berukuran A2 dengan gambar sebebas-bebasnya. Namanya juga PenaHitam, maka gambar yang dihasilkan ternyata juga erat dengan “kengerian” yang khas.
Salah seorang peserta yang hadir malam itu membuka suaranya—ketika dimintai opini tentang acara tersebut—dengan kata Amazing. Em Iqbal menjelaskan bahwa dari workshop yang diadakan PenaHitam tersebut, dia mendapatkan ilmu menarik tentang bagaimana cara mencukil hingga mencetak desain di atas totebag.
“Hari ini gue bisa dapat pengetahuan mencukil yang lebih dalam lagi, ya walaupun gue udah tau dasar-dasarnya dari buku atau sosmed sih. Tapi sekarang nguliknya sampai dalam. Dan gue seneng bisa ketemu sama teman-teman yang hobinya sejalan sama gue. Gue juga bisa lihat karya-karya yang ajib banget. Seru! Dan gue berharap ke depannya PenaHitam bisa adain acara kaya gini terus.”, terangnya.
Tidak hanya para pengunjung yang dibuat senang akan acara tersebut namun hal serupa juga dialami oleh Painsugar sendiri, sang dedengkot PenaHitam. Dari air mukanya terlihat jelas bahwa dia juga mengalami sensasi kegembiraan yang tak tergantikan.
“Jujur banget, setelah beberapa kali aku ke Jakarta, acara ini adalah yang benar-benar memorable. Aku—pribadi—gak pernah ngerasain buat acara yang sangat menarik seperti ini. Kita bisa bebas berkarya, bebas berekspresi. Dan saya paling suka karena ada musiknya yang bagus banget. Harapan aku ke depan bisa ajak teman-teman dari daerah manapun untuk bisa berkarya bareng dan buat acara-acara seperti ini. Saya juga berterima kasih kepada Sketsaku yang turut menginspirasi teman-teman PenaHitam. Semoga kita bisa terus bekerja sama di event selanjutnya.”
Akhirnya acara ditutup oleh sambutan terima kasih dari Painsugar kepada banyak pihak yang telah membantunya selama ini dan terutama yang telah mensukseskan acara tersebut. Walaupun sudah usai, euforia yang tercipta malam itu sepertinya tidak mau meninggalkan pikiran kita semua yang telah hadir. Hari itu adalah malam yang sangat ekspresif. Semua bebas mengekspresikan dirinya masing-masing, boleh dibilang ini adalah sesuatu yang “pecah banget” di penghujung tahun 2013.
Sukses selalu kawan sesuai dengan tagline yang dijunjung PenaHitam yang begitu ngehits, “Berkarya, Berteman dan Bersenang-senang.” #RESPECT
-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com
Dialog Hati Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2)
SKETSAKU – JAKARTA. Sebuah keinginan acap kali membuat hati kita
tidak tenang. Malah terkadang membuat hati kita bergelora sekaligus
berputar-putar seraya bertanya, apakah yang akan kita lakukan untuk
mewujudkan keinginan tersebut.
Kira-kira seperti itulah hal yang dirasakan penghuni Sanggar Seni Rupa Rawamangun ketika mencetuskan ide untuk membuat sebuah pameran seni rupa di awal tahun 2014 lalu. Dari sana, akhirnya diambil keputusan untuk mengambil tema “Dialog Hati”.
Pameran yang dibuka pada tanggal 7 Januari 2014 tersebut tidak hanya menggelar pameran seni rupa saja, melainkan juga menghadirkan tontonan berkualitas seperti live music dan dance performance. Dahsyatnya lagi adalah semua pertunjukan yang disuguhkan merupakan kreasi anggota Unit Kesenian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UKM-UNJ).
Taufik Hidayat selaku Ketua Pelaksana Pameran tersebut menyebutkan bahwa di kampusnya ada lima bagian UKM seni yang sudah terbentuk sejak lama. Diantaranya adalah Seni Suara, Seni Tari, Seni Drama, Band dan yang paling tua keberadaannya adalah Seni Rupa.
“Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2) ini adalah UKM seni yang paling tua diantara yang lainnya. Dibentuk kira-kira tahun 1982. Dan enaknya menjadi bagian UKM ini adalah semua alumni kampus itu masih aktif, baik itu kalau kumpul-kumpul biasa bahkan ada beberapa yang memang menjadi pengisi materi di UKM.”
Tujuan diadakannya pameran tersebut adalah untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa mahasiswa UNJ punya bakat-bakat seni yang memang apik dan layak mendapatkan apresiasi lebih. Humas pameran S2R2 itu, Setyowati Wulandari juga menuturkan bahwa pameran ini adalah salah satu ajang unjuk gigi hasil dari pembelajaran para anggota UKM selama setahun terakhir.
“Ini sebenarnya acara tahunan UKM yang biasanya kita adain di lingkungan kampus. Cuma di tahun ini kita mau ada suasana baru, makanya kita pilih untuk pameran di Museum Mandiri ini. Untuk persiapan sendiri butuh waktu sekitar dua bulanan. Disini siapapun bisa ikut menikmati sajian acara kami secara gratis. Tapi untuk lomba ada biaya registrasinya sendiri.”, ucap gadis yang akrab disapa Riri itu.
Acara yang digelar dari tanggal 7-10 Januari 2014 tersebut menampilkan beragam performance setiap harinya. Mulai dari tari daerah di hari pembukaan, modern dance, body painting sampai penampilan band bentukan UKM. Selain itu, ada beberapa lomba yang bisa diikuti oleh pelajar dan masyarakat umum diantaranya lomba mewarnai, menggambar di media caping dan kaos serta graffiti.
Riri berharap dengan adanya pameran tahunan ini, bisa memacu anggota UKM-UNJ untuk terus berkarya dan juga semakin banyak masyarakat yang mengapresiasi karya-karya tersebut.
“Seni adalah sesuatu yang datang dari hati dan kita nyaman dalam membuatnya dan bisa dinikmati oleh semua orang.”
-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com
Kira-kira seperti itulah hal yang dirasakan penghuni Sanggar Seni Rupa Rawamangun ketika mencetuskan ide untuk membuat sebuah pameran seni rupa di awal tahun 2014 lalu. Dari sana, akhirnya diambil keputusan untuk mengambil tema “Dialog Hati”.
Pameran yang dibuka pada tanggal 7 Januari 2014 tersebut tidak hanya menggelar pameran seni rupa saja, melainkan juga menghadirkan tontonan berkualitas seperti live music dan dance performance. Dahsyatnya lagi adalah semua pertunjukan yang disuguhkan merupakan kreasi anggota Unit Kesenian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UKM-UNJ).
Taufik Hidayat selaku Ketua Pelaksana Pameran tersebut menyebutkan bahwa di kampusnya ada lima bagian UKM seni yang sudah terbentuk sejak lama. Diantaranya adalah Seni Suara, Seni Tari, Seni Drama, Band dan yang paling tua keberadaannya adalah Seni Rupa.
“Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2) ini adalah UKM seni yang paling tua diantara yang lainnya. Dibentuk kira-kira tahun 1982. Dan enaknya menjadi bagian UKM ini adalah semua alumni kampus itu masih aktif, baik itu kalau kumpul-kumpul biasa bahkan ada beberapa yang memang menjadi pengisi materi di UKM.”
Tujuan diadakannya pameran tersebut adalah untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa mahasiswa UNJ punya bakat-bakat seni yang memang apik dan layak mendapatkan apresiasi lebih. Humas pameran S2R2 itu, Setyowati Wulandari juga menuturkan bahwa pameran ini adalah salah satu ajang unjuk gigi hasil dari pembelajaran para anggota UKM selama setahun terakhir.
“Ini sebenarnya acara tahunan UKM yang biasanya kita adain di lingkungan kampus. Cuma di tahun ini kita mau ada suasana baru, makanya kita pilih untuk pameran di Museum Mandiri ini. Untuk persiapan sendiri butuh waktu sekitar dua bulanan. Disini siapapun bisa ikut menikmati sajian acara kami secara gratis. Tapi untuk lomba ada biaya registrasinya sendiri.”, ucap gadis yang akrab disapa Riri itu.
Acara yang digelar dari tanggal 7-10 Januari 2014 tersebut menampilkan beragam performance setiap harinya. Mulai dari tari daerah di hari pembukaan, modern dance, body painting sampai penampilan band bentukan UKM. Selain itu, ada beberapa lomba yang bisa diikuti oleh pelajar dan masyarakat umum diantaranya lomba mewarnai, menggambar di media caping dan kaos serta graffiti.
Riri berharap dengan adanya pameran tahunan ini, bisa memacu anggota UKM-UNJ untuk terus berkarya dan juga semakin banyak masyarakat yang mengapresiasi karya-karya tersebut.
“Seni adalah sesuatu yang datang dari hati dan kita nyaman dalam membuatnya dan bisa dinikmati oleh semua orang.”
-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com
Subscribe to:
Posts (Atom)










