Friday, April 25, 2014

Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Kampanye Visual “Doodle Mangrove”



Jakarta, KeMANGTEER. Siapa tak kenal KemangteerJKT, salah satu komunitas volunteer pelestari Mangrove di Jakarta yang merupakan anak dari Kemangteer Indonesia. Belum lama ini, mereka ikut berpartisipasi dalam event berskala nasional Social Media Festival atau yang lebih dikenal dengan SocMedFest. Diadakan di Jakarta tanggal 12-13 Oktober 2013, KemangteerJKT turut andil memeriahkan suasana fX Plaza, Senayan kala itu dengan talkshow dan fashion show Batik Bakaunya.

Yang tak kalah menariknya adalah tampilan booth mereka yang penuh warna dan beragam produk hasil olahan Mangrove. Produk-produk Mas Jamang, Batik Bakau, Grovenir dan juga MangroverStore tertata rapi di meja mereka. Tetapi yang menarik adalah adanya gambar Doodle Mangrove yang dipajang di booth mereka.

Kali ini KemangteerJKT melakukan hal yang berbeda untuk menyuarakan pentingnya pelestarian mangrove di Jakarta. Mereka menggaet komunitas doodle Indonesia, Full Of Doodle Art untuk berkampanye secara visual. Berawal dari perbincangan iseng yang tidak disengaja, akhirnya tercetuslah ide untuk berkolaborasi dalam kampanye Save Mangrove.

Anggota KemangteerJKT yang sedang berpose di depan booth mereka

Full Of Doodle Art (FODA) adalah sebuah komunitas yang berawal dari media sosial untuk menjaring pencipta seni bebas atau free-hand art yang dapat dituangkan dalam segala jenis media dengan berbagai gaya dari pembuatnya. Berdiri tanggal 13 Januari 2013, komunitas ini memiliki visi untuk mengenalkan doodle art kepada masyarakat Indonesia khususnya para remaja. Komunitas ini terbentuk karena kecintaan sang founder, Yessi N. Muliana atau yang lebih akrab disapa Yessiow terhadap seni tersebut. FODA tak hanya mengenalkan doodle art kepada remaja tetapi juga meyatukan mereka dalam suatu wadah yang kreatif dan inspiratif.

“Tujuan FODA sebenarnya adalah menyatukan anak-anak muda yang cinta dengan dunia seni gambar dan juga menjalin persahabatan. Jadi selain bisa saling menginspirasi orang banyak (lewat gambar), kita juga bisa dapat teman baru.”, ujar Yessiow dengan semangat.

Founder komunitas Full Of Doodle Art, Yessiow
Reaksi para doodler—sebutan untuk penggiat doodle—sewaktu diajak untuk melakukan kampanye dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove kala itu, sangatlah antusias. Ini terbukti dengan banyaknya  anak muda yang mengirimkan gambar mereka yang bertemakan “Save Mangrove”. Ini menunjukkan bahwa anak muda sekarang ini masih banyak yang peduli dengan pelestarian mangrove. Konsep kampanye visual “Save Mangrove” ini sebenarnya adalah untuk mengajarkan kepada orang banyak bahwa untuk mulai membangun rasa cinta terhadap lingkungan itu bisa dilakukan dari hal yang disukai. 

“Kalau hobi gambar, ya bisa dimulai dari gambar yang bertemakan lingkungan. Kamu bisa buat gambar yang mengandung pesan selamatkan atau peduli terhadap lingkungan.”, kata Addie Setiadi selaku koordinator dari KemangteerJKT.

Doodle mangroves 1

Doodle mangroves 2

Doodle Mangrove hasil karya teman-teman FODA ikut dipamerkan saat gelaran SocMedFest berlangsung. Selain itu juga diupload di twitter @kemangteerJKT dan @fullofdoodleart. Apresiasi masyarakat terhadap hasil karya anak-anak muda ini juga sangat baik, mereka memuji betapa kreatifnya generasi muda saat ini.

Pihak KemangteerJKT berharap ke depannya dengan adanya kolaborasi kampanye seperti ini dapat membuat masyarakat lebih aware terhadap lingkungannya. Seni memang indah. Apalagi jika bisa menginspirasi banyak orang untuk berubah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Salam Mangrover! Semangteer!

(Addie Setiadi, 2013)

Thursday, April 24, 2014

KeMANGTEERJKT ikut memeriahkan Socmedfest 2013



Jakarta, KeMANGTEER. Semarak penggiat sosial media kembali pecah saat gelaran event Social Media Festival berlangsung pada tanggal 12-13 Oktober 2013 lalu. Tahun ini, ajang kumpul-kumpul atau kopi darat nasional tersebut hadir dengan tema Dare To Share. Acara yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 ini kembali mengambil lokasi di fX Plaza, Senayan dan diadakan selama 24 jam nonstop. Banyak komunitas yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, mulai dari yang bergerak di bidang sosial, lingkungan, pendidikan hingga fans club. Seru kan!

             Nah di tahun ketiga ini, panitia Socmedfest memberikan kesempatan kepada teman-teman dari KemangteerJKT untuk bisa ikut serta lho. Berkolaborasi dengan Savesharks Indonesia dan Bekasi Green Attack, teman-teman KemangteerJKT tak hanya berpartisipasi nampang di booth saja tetapi sekaligus juga menjadi pembicara talkshow.

             Banyak pengunjung yang datang ke booth KemangteerJKT untuk mengetahui informasi seputar komunitas pelestari Mangrove di Jakarta ini. Ternyata banyak orang yang mengira bahwa KemangteerJKT adalah salah satu perkumpulan anak muda yang berbasis di Kemang, Jakarta Selatan. Tetapi dengan sabar, teman-teman dari KemangteerJKT mulai menjelaskan apa kegiatan mereka selama ini, manfaat dari hutan mangrove sampai memperkenalkan produk olahan dari Mangrove itu sendiri.     

             “Di acara Socmedfest tersebut kita akan ada talkshow bareng Savesharks Indonesia dan Bekasi Green Attack dan juga nanti kita akan fashion show Batik Bakau.”, ujar  Yusuf Tadarusman atau yang akrab dipanggil Ucup.

             KemangteerJKT turut berbahagia karena bisa ikut menyuarakan pentingnya kelestarian hutan Mangrove di Indonesia terutama di kawasan pesisir Jakarta. Selain itu, para volunteer yang terdiri dari mahasiswa berbagai universitas di Jakarta ini juga bersemangat untuk memperkenalkan produk olahan berbahan dasar Mangrove yang belum populer di masyarakat. Setiap pengunjung yang datang ke booth mereka dipersilahkan untuk mencicipi kerupuk dan peyek Lindur, salah satu produk hasil olahan Mangrove.
      
             “Wah, ternyata Mangrove bisa dijadikan cemilan juga lho, seperti salah satu panganan yang saya pegang ini. Ini adalah peyek yang terbuat dari olahan buah Lindur atau nama Latinnya Bruguiera Gymnorrhiza. Ini merupakan salah satu produk dari Mas Jamang.”, kata  Tuti Alawiyah saat talkshow berlangsung.

             Kemeriahan terus berlanjut. Setelah puas berkolaborasi dengan Savesharks Indonesia, teman-teman KemangteerJKT kembali berkolaborasi lewat talkshow bersama komunitas Bekasi Green Attack yang merupakan sekumpulan sukarelawan yang juga peduli terhadap kelestarian Mangrove terutama di daerah sekitar Muara Gembong, Bekasi.

             Ada yang berbeda di talkshow sesi kedua ini. Selain berbincang-bincang tentang pelestarian Mangrove, teman-teman KemangteerJKT juga punya kejutan spesial buat pengunjung Socmedfest 2013. Pengunjung dibuat terpukau oleh performance beberapa anggota KemangteerJKT yang berlenggak-lenggok mengenakan balutan kain Batik Bakau. Para model tersebut berjalan mengitari panggung luar Socmedfest dengan begitu luwesnya bak model profesional. Balutan Batik Bakau yang mereka kenakan pada hari Minggu (13/10) itu merupakan rancangan dari Afriza Aziz. 

             “Batik Bakau sendiri menggunakan pewarna yang terbuat dari limbah propagul bakau yang telah membusuk secara alami. Salah satu produk unggulan batik kami adalah Batik Legenda yang mana motifnya mengisahkan tentang beberapa cerita masyarakat yang telah melegenda, contohnya Sangkuriang.”, imbuh Cahyadi Adhe Kurniawan selaku owner Batik Bakau saat menjelaskan produknya ke pengunjung.
               
Suasana fX Plaza, Senayan semakin riuh ketika sore menjelang, pengunjung seakan berbondong-bondong tak mau ketinggalan untuk menyaksikan acara penutupan Socmedfest. Mereka berebut untuk mampir ke setiap booth komunitas yang ada di sana. Acara tersebut ditutup oleh penampilan Stand Up Comedy dan Project Pop yang tampil membawakan beberapa tembang hitsnya seperti Ingatlah Hari Ini. Seperti lirik lagu Dangdut Is The Music Of My Country, acara ini memang benar-benar bisa menyatukan komunitas yang berbeda-beda.
               
 Edy Rahmanto selaku Ketua KemangteerJKT merasa bangga karena teman-temannya telah berhasil mengelola acara ini dengan baik. Harapannya ke depan adalah semoga KemangteerJKT bisa terus bersatu saling bahu membahu menjaga kelestarian Mangrove di Jakarta.

                Tak lupa Edy juga menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kerjasama teman-temannya seperti yang dikutip dari akun twitternya, “Terimakasih untuk anggota @kemangteerjkt atas kerjasama dan partisipasi kalian, semoga event selanjutnya lebih kompak dan lebih baik lagi {}”. (Addie Setiadi, 2013)

Wednesday, April 23, 2014

Pameran Karya dan Workshop Mencukil Penahitam

SKETSAKU – Jakarta. Banyak orang yang menyebutkan bahwa akan ada banyak gejolak yang menyambangi tahun 2013 lalu, dari dunia entertainment hingga ekonomi dan bahkan tak sedikit yang ikut mewarnai panggung politik di Indonesia. Namun, tidak ada yang bisa menyurutkan Pena Hitam untuk terus berkarya “gila-gilaan” sepanjang tahun 2013. Bahkan boleh dibilang mereka telah sukses menelurkan tiga edisi Fanzine secara independen.
Di akhir tahun 2013, Pena Hitam mengadakan sebuah workshop grafis yang mengangkat teknik mencukil di atas hardboard. Workshop yang digawangi oleh Abe sebagai trainer tersebut mengambil tempat di Tokove café di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Walaupun hujan sempat mengguyur ibukota, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan tekad para peserta untuk tetap datang ke acara tersebut.
Pameran karya Penahitam
Pameran karya Penahitam

Sore itu, Abe menjelaskan beberapa tahapan mencukil kepada para peserta workshop. Dimulai dari pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu seperti papan hardboard, carving, roll grafis, kaca bekas, kertas dan totebag, pensil, tinta offset, kape, dan bensin/minyak tanah.

Mencukil merupakan salah satu teknik dalam membuat seni grafis. Pada tahun 1948, Mochtar Apin bersama temannya Baharuddin Marasuta memperkenalkan teknik tersebut menggunakan media pahatan lino / karet hitam. Waktu itu, karya yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan mengenai situasi perjuangan bangsa Indonesia dan kondisi politik yang sedang terjadi.
Workshop mencukil Penahitam
Workshop mencukil Penahitam

Selain workshop, PenaHitam juga mengadakan barter karya, dimana siapapun bebas bertukar artprints dengan sesama artis lainnya. Karya-karya yang sempat “mejeng” di fanzine mereka pun turut menghiasi dinding-dinding Tokove. Menakjubkan sekali bisa menikmati karya-karya indah penuh makna hari itu.

Didi Suryawan atau yang lebih populer dipanggil Painsugar memang punya tujuan untuk mengumpulkan karya-karya yang tidak hanya punya nilai estetika tinggi namun juga sarat akan makna. Baginya, sebuah karya haruslah memiliki sebuah arti yang mendalam sehingga tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pajangan saja melainkan media yang bisa mengubah pandangan seseorang dalam melihat dunia ini. Fantastis!

Satu hal lagi yang menarik di pameran Sabtu itu (30/12) adalah gambar bareng. Para peserta diajak untuk bersama-sama mengisi media kertas berukuran A2 dengan gambar sebebas-bebasnya. Namanya juga PenaHitam, maka gambar yang dihasilkan ternyata juga erat dengan “kengerian” yang khas.
Kolaborasi gambar Penahitam
Kolaborasi gambar Penahitam

Salah seorang peserta yang hadir malam itu membuka suaranya—ketika dimintai opini tentang acara tersebut—dengan kata Amazing. Em Iqbal menjelaskan bahwa dari workshop yang diadakan PenaHitam tersebut, dia mendapatkan ilmu menarik tentang bagaimana cara mencukil hingga mencetak desain di atas totebag.

“Hari ini gue bisa dapat pengetahuan mencukil yang lebih dalam lagi, ya walaupun gue udah tau dasar-dasarnya dari buku atau sosmed sih. Tapi sekarang nguliknya sampai dalam. Dan gue seneng bisa ketemu sama teman-teman yang hobinya sejalan sama gue. Gue juga bisa lihat karya-karya yang ajib banget. Seru! Dan gue berharap ke depannya PenaHitam bisa adain acara kaya gini terus.”, terangnya.

Tidak hanya para pengunjung yang dibuat senang akan acara tersebut namun hal serupa juga dialami oleh Painsugar sendiri, sang dedengkot PenaHitam. Dari air mukanya terlihat jelas bahwa dia juga mengalami sensasi kegembiraan yang tak tergantikan.

“Jujur banget, setelah beberapa kali aku ke Jakarta, acara ini adalah yang benar-benar memorable. Aku—pribadi—gak pernah ngerasain buat acara yang sangat menarik seperti ini. Kita bisa bebas berkarya, bebas berekspresi. Dan saya paling suka karena ada musiknya yang bagus banget. Harapan aku ke depan bisa ajak teman-teman dari daerah manapun untuk bisa berkarya bareng dan buat acara-acara seperti ini. Saya juga berterima kasih kepada Sketsaku yang turut menginspirasi teman-teman PenaHitam. Semoga kita bisa terus bekerja sama di event selanjutnya.”

Akhirnya acara ditutup oleh sambutan terima kasih dari Painsugar kepada banyak pihak yang telah membantunya selama ini dan terutama yang telah mensukseskan acara tersebut. Walaupun sudah usai, euforia yang tercipta malam itu sepertinya tidak mau meninggalkan pikiran kita semua yang telah hadir. Hari itu adalah malam yang sangat ekspresif. Semua bebas mengekspresikan dirinya masing-masing, boleh dibilang ini adalah sesuatu yang “pecah banget” di penghujung tahun 2013.

Sukses selalu kawan sesuai dengan tagline yang dijunjung PenaHitam yang begitu ngehits, “Berkarya, Berteman dan Bersenang-senang.” #RESPECT

-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com

Dialog Hati Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2)

SKETSAKU – JAKARTA. Sebuah keinginan acap kali membuat hati kita tidak tenang. Malah terkadang membuat hati kita bergelora sekaligus berputar-putar seraya bertanya, apakah yang akan kita lakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Kira-kira seperti itulah hal yang dirasakan penghuni Sanggar Seni Rupa Rawamangun ketika mencetuskan ide untuk membuat sebuah pameran seni rupa di awal tahun 2014 lalu. Dari sana, akhirnya diambil keputusan untuk mengambil tema “Dialog Hati”.

Pameran yang dibuka pada tanggal 7 Januari 2014 tersebut tidak hanya menggelar pameran seni rupa saja, melainkan juga menghadirkan tontonan berkualitas seperti live music dan dance performance. Dahsyatnya lagi adalah semua pertunjukan yang disuguhkan merupakan kreasi anggota Unit Kesenian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UKM-UNJ).
Taufik Hidayat selaku Ketua Pelaksana Pameran tersebut menyebutkan bahwa di kampusnya ada lima bagian UKM seni yang sudah terbentuk sejak lama. Diantaranya adalah Seni Suara, Seni Tari, Seni Drama, Band dan yang paling tua keberadaannya adalah Seni Rupa.

“Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2) ini adalah UKM seni yang paling tua diantara yang lainnya. Dibentuk kira-kira tahun 1982. Dan enaknya menjadi bagian UKM ini adalah semua alumni kampus itu masih aktif, baik itu kalau kumpul-kumpul biasa bahkan ada beberapa yang memang menjadi pengisi materi di UKM.”

Tujuan diadakannya pameran tersebut adalah untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa mahasiswa UNJ punya bakat-bakat seni yang memang apik dan layak mendapatkan apresiasi lebih. Humas   pameran S2R2 itu, Setyowati Wulandari juga menuturkan bahwa pameran ini adalah salah satu ajang unjuk gigi hasil dari pembelajaran para anggota UKM selama setahun terakhir.

“Ini sebenarnya acara tahunan UKM yang biasanya kita adain di lingkungan kampus. Cuma di tahun ini kita mau ada suasana baru, makanya kita pilih untuk pameran di Museum Mandiri ini. Untuk persiapan sendiri butuh waktu sekitar dua bulanan. Disini siapapun bisa ikut menikmati sajian acara kami secara gratis. Tapi untuk lomba ada biaya registrasinya sendiri.”, ucap gadis yang akrab disapa Riri itu.

Acara yang digelar dari tanggal 7-10 Januari 2014 tersebut menampilkan beragam performance setiap harinya. Mulai dari tari daerah di hari pembukaan, modern dance, body painting sampai penampilan band bentukan UKM. Selain itu, ada beberapa lomba yang bisa diikuti oleh pelajar dan masyarakat umum diantaranya lomba mewarnai, menggambar di media caping dan kaos serta graffiti.

Riri berharap dengan adanya pameran tahunan ini, bisa memacu anggota UKM-UNJ untuk terus berkarya dan juga semakin banyak masyarakat yang mengapresiasi karya-karya tersebut.

“Seni adalah sesuatu yang datang dari hati dan kita nyaman dalam membuatnya dan bisa dinikmati oleh semua orang.”

-----------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca di website Sketsaku.com

Plasticology Art, Transform Rubbish Into A Colorful Canvas

SKETSAKU – Jakarta. Bali, surga di bumi Indonesia. Terletak diantara pulau Jawa di sebelah barat dan Lombok di sebelah timurnya merupakan sebuah pulau kecil yang sangat terkenal akan kemahsyuran budaya dan alam yang dimilikinya. Keindahan pulau yang mendapat julukan Pulau Dewata tersebut seakan tak pernah sepi dari lirikan turis lokal maupun mancanegara. Bahkan tak sedikit warga negara asing yang memilih untuk menetap disana.
Konsep tradisional yang melekat pada wajah Bali merupakan salah satu pesona yang tidak bisa dipungkiri lagi. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan pakaian, upacara adat dan pemanfaatan sumber daya dari alam yang masih kental dengan unsur tradisionalitas yang apik terjaga. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, Bali tercemar oleh serangan sampah plastik pada era modern ini.

Atas dasar itulah, Made Muliana Bayak tergerak untuk melakukan aksi green campaign-nya sendiri melalui dunia seni yang saat ini digelutinya. Made Bayak—begitu sapaan akrabnya—sangat prihatin dengan kondisi Bali saat ini yang sudah penuh dengan sampah terutama limbah plastik. Berangkat dari rasa keprihatinannya itulah, ia mulai bereksperimen menggunakan limbah plastik dalam berkarya. Awalnya, ia membuat patung dan kemudian mulai memikirkan untuk membuat seni dalam dua dimensi.

Made Muliana Bayak, pencetus ide Plasticology Art
Made Muliana Bayak, pencetus ide Plasticology Art

Berbekal sampah-sampah plastik bekas yang ada di sekelilingnya, Made Bayak melalui berbagai eksperimennya berhasil mengubah sampah menjadi kanvas penuh warna yang bisa dijadikan sebagai media melukis. Alat-alat yang digunakan pun sederhana, yakni lem, koran bekas, dan setrika listrik. Hasil eksperimentalnya tadi kemudian diberi nama Plasticology Art.
“Saya mulai bereksperimen sejak tahun 2008 dan mulai fokus kira-kira 1,5 tahun belakangan ini. Ide awalnya karena saya prihatin dengan bumi Bali yang sudah penuh dengan sampah. Padahal dulu waktu saya masih kecil tidak ada sampah dimana-mana.”, terang Made Bayak saat ditemui di sela-sela workshopnya di @america Pacific Place, Sudirman.

Lukisan Tari Legong karya Made Bayak
Lukisan Tari Legong karya Made Bayak

Cara membuat sebuah kanvas dari plastik bekas terbilang sangat mudah. Cukup menggunakan media triplek, lalu plastik bekas yang bisa ditemui di sekeliling kita, lem, koran bekas dan sebuah setrika listrik. Pertama, siapkan triplek dengan ukuran tertentu lalu atur plastik bekas diatasnya sesuai dengan desain yang akan dibuat, tempel dengan lem lalu setrika dengan dialasi koran bekas. Setelah kanvas siap jadi maka tinggal dilukis sesuai desain.

Alumni Seni Rupa ISI Denpasar ini juga membagi ilmu Plasticology Art-nya kepada para siswa di tempat asalnya melalui serangkaian workshop edukatif. Tujuannya adalah agar generasi muda sekarang juga bisa ikut ambil bagian dalam pengurangan sampah yang ternyata bisa diolah menjadi sebuah karya seni yang indah.

"Plastic Girl" karya Addie
Narsis bersama karya sendiri, "Plastic Girl"

Profil dan karya dari Made Bayak, dapat dilihat melalui www.madebayak.wordpress.com
Yuk, berkarya secara kreatif seperti Made Bayak hihihi…


------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga dapat dibaca melalui website Sketsaku.com

Friday, May 10, 2013

Nyanyian Sumbang

Ini seperti jalanan yang tak berujung. Senja telah datang dan mentari pun enggan berpancar. Bulan nan terang jadi saksi kunci. Aku bernyanyi untuk hidupku yang tak pernah jelas. Terkadang aku seakan lupa seperti apa langit pagi. Saat bintang bersembunyi dan malam bergulir, aku malah pulas di bawah bayang-bayang jembatan beton. Lagi-lagi, aku tak tahu hidupku ini mau kubawa kemana.     

       


                 “Senar yang aku petik, tak berbuah.

                 Lagu yang aku teriakkan, tak didengar.

                 Kantong bekas permen yang aku sodorkan, tak terisi.

                 Malam ini, aku tak beruntung.”




Ribuan kata coba melemahkanku setiap saat. Dinginnya angin malam menyerangku. Haruskah aku gentar dengar gelegar yang menyambar? Tanyakan semuanya pada bintang yang berkedip mengintip. Perjalananku ini penuh kerikil, tak peduli badanku menggigil. Perutku kadang dipenuhi jangkrik yang bernyanyi melilit. Tapi aku hanya berusaha, Tuhanlah yang tentukan. Dan aku selalu berdoa, biar Tuhan yang wujudkan. Aku percaya, Tuhan tidak pernah tidur, walaupun sepermili detik.




                “Aku tak ingin menyerah, hidup bukan untuk pasrah.

                Apa yang aku ingin kejar? Mimpiku sudah berpendar.

                Aku hanya ingin menjadi sederhana, bahagia.

                Asal jangan mengiba penuh pura.”

@Addie_Setiadi
Nyanyian Sumbang, April 2013 

Kerajaan Terselubung

Ini tentang yang terlihat dan tidak terlihat.

Apa yang bisa kita pahami dengan mata kita, masih dapat kita duga.

Namun, apa yang tersembunyi dalam bayang-bayang, bisa jadi pembunuh kita.

Banyak hal tersembunyi di bumi ini, tanah, batu, angin, air, api, semua punya rahasia.

Simbol yang tertera dalam kitab-kitab kuno menyimpan jutaan misteri.

Bintang yang bersinar di langit timur, berkedip memberi pertanda.

Wahyu yang turun jadi inspirasi, mimpi harus diwujud-nyatakan.

Tanah yang bergerak diam-diam bisa jadi kunci akan masa depan yang belum kita pernah bayangkan.

Kuil-kuil suci akan dihancurkan, digantikan dengan kuil yang baru.

Hukum yang tertulis sejak ribuan tahun akan dibakar, digantikan dengan hukum yang baru.

Imam yang memimpin ratusan abad akan digulingkan, digantikan dengan Imam yang maha baru, terang, dan penuh dengan kearifan.



Ini tentang sesuatu yang lebih besar, raksasa, dan maha agung.
Semua yang telah digariskan sebelumnya akan menjadi debu.
Nantinya, hanya akan ada dua pilihan.
Tunduk atau meringkuk dalam tanah.
Eksekusi telah dimulai.
Pertumpahan darah tidak dapat dielakkan.
Semua menjadi halal, yang penting misi terlaksana.
Bagi mereka –yang berkepentingan— dunia ini telah sekarat dan pembaharuan siap menanti.
Ini bukan sekedar wacana, tapi  sudah terencana.
Entah sejak kapan bermula, tapi yang pasti besarnya tak dapat kita kira.
Banyak fakta yang nyata, tapi kita tetap buta.
Ada makna dibalik kata-kata dan angka.
Apa yang kita baca, tak berarti apa-apa.
Ini seperti lapisan kulit yang tak terbatas.
Kita dapat mengupas kulit pertama, dan menemukan lapisan kedua, ketiga, sampai tak terhingga.
Namun hanya Master dan para jendralnya yang mengetahui kebenaran suci.



Ini tentang sebuah kekuatan super yang tak bisa diremehkan.
Lingkaran api yang transparan terus meluas.
Siap membakar mereka –yang tak mau percaya— yang suka mengganggu.
Doktrin lama –yang bersinggungan— akan diluluh-lantahkan.
Kelak, dunia ini akan terbelah dua.
Satu bagian akan diterangi cahaya baru, bagian lainnya akan banjir darah.
Kita semua akan menyaksikan suatu dunia yang baru.
Yang akan dipenuhi oleh mereka yang mengimani malaikat jatuh.
Yang dinanti akan tiba, Bintang Fajar, Raja Ular.
Semua akan menjadi jelas pada akhirnya, walaupun tetap samar-samar.
Lantas, ada dimanakah kita?
Ini perang yang tak terlihat.
Entah apa yang akan terjadi pada hari esok.
Ini perang yang direncanakan oleh mereka.
Kubu mana yang harus kita pilih, jika opsi yang ada, hanyalah..


Berdiri bersama mereka atau MATI..


 @Addie_Setiadi
Kelompok Rahasia  – Misteri Dunia Baru, April 2013